Setelah kabar hebat lainnya seorang pembantu rumah tangga yang lulus kuliah dengan predikat CumLaude, sekarang muncul lagi seorang anak buruh tani yang lulus kuliah hanya 7 semester dengan predikat CumLaude meraih IPK yang fantastik 3.99

devi

Devi Triasari, mahasiswi yang hanya perlu tujuh semester untuk lulus dan bahkan mendapatkan IPK 3,99. Gadis kelahiran Ngawi 19 Desember 1991 ini lahir dari keluarga yang jauh dari kecukupan. Sang ibu bekerja sebagai pembantu rumah tangga, sedangkan ayahnya seorang buruh tani. Mahasiswi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo itu tidak mendapatkan prestasi gemilang dengan mudah. Ia harus melalui perjuangan yang panjang dan berat, 3,5 tahun yang lalu ia memutuskan untuk pergi ke Solo guna mengikuti SNMPTN. Ia Sejatinya tak memiliki kenalan atau saudara di Solo. Bahkan ia hanya membawa bekal yang tak cukup untuk membayar kos selama dua hari saja. Ia mengatakan, “Test SNMPTN saya di SMAN 2 Sukoharjo, saya nekat saja mengikuti. Tidak kebayang akan tidur di mana karena test berlangsung dua hari.” Suatu waktu saat istirahat test ia bertemu dengan seorang ibu di masjid. Ia lantas menceritakan jika ia berasal dari Ngawi dan tak mempunyai tempat untuk menginap selama tes.
 
Mendengar cerita Devi, sang ibu rupanya merasa kasihan dan menawarkan gudangnya sebagai tempat tinggal Devi sementara. Devi mengatakan, “Ketika saya ikut SNMPTN sebenarnya saya sudah bekerja menjadi tenaga administrasi di sebuah perusahaan kontraktor di Magetan.” Bahkan sebenarnya Devi diketahui telah bekerja saat ia masih menimba ilmu di SMKN 1 Ngawi. Ia merasa tidak pantas untuk menggantungkan semua kebutuhannya kepada keluarganya yang memang hidup pas-pasan. Devi berpikir jika ia harus bisa mencukupi kebutuhannya sendiri. “Ayah hanya buruh tani, tanpa sawah dan kini bahkan tidak lagi bisa bekerja karena terkena katarak. Ibu saya juga tidak boleh kecapekan karena terkena typus,” kata Devi. Bagi keluarga Devi, pendidikan adalah sesuatu yang mewah. Ayahnya hanya seorang lulusan SD, sementara ibunya tak pernah lulus SD. 
 
Dengan alasan tidak punya biaya, dua kakaknya pun tidak pernah menimba ilmu ke tingkat yang lebih tinggi dari SMP. “Orang tua saya tak punya rumah, kami sekeluarga numpang di rumah majikan ibu. Saya bahkan pernah berkeinginan menjadi TKW sebagaimana tetangga-tetangga saya, namun karena ternyata biayanya juga tidak sedikit lantas saya urungkan,” imbuh Devi. Ia kemudian terpaksa bekerja setelah lulus SMK guna membantu mencari nafkah bagi keluarganya. Setelah dua tahun, ia berpikir jika kondisi keluarganya tidak akan berubah jika tetap saja dengan aktivitas yang seperti itu. Ia lantas beranggapan jika derajar keluarganya akan terangkat dengan dirinya menempuh pendidikan yang tinggi. Devi mengatakan, “Setiap libur kerja, saya cari-cari informasi tentang beasiswa di internet. Kemudian saya coba daftar SNMPTN dengan program beasiswa Bidik Misi.
 
Mengingat dirinya adalah SMK jurusan sekretaris, keputusan yang diambilnya tergolong nekat. Karena hanya bisa mengambil program studi IPS, Devi memutuskan untuk mengambil jurusan ilmu Hukum Fakultas Hukum. “Saat bekerja sedikit-sedikit saya bersinggungan dengan masalah hukum juga,” kata dia. Ia mendapatkan pilihan yang sulit setelah ia diterima di Universitas Sebelas Maret, Solo tersebut. Ia bersyukur karena cita-citanya untuk meneruskan pendidikan yang lebih tinggi bisa terwujud, namun secara terpaksa ia juga harus meninggalkan pekerjaannya yang selama ini membantu kebutuhan keluarganya. Ia mengatakan, “Akhirnya dengan berat saya keluar dari kantor dan memutuskan untuk mencari kerja sambilan di Solo sembari kuliah.” “Saya jualan pulsa elektronik, volunter entry data, memberi les privat, dan sebagainya. Pokoknya apa pun yang bisa menghasilkan uang asalkan halal saya lakoni,” tambahnya. Bahkan di beberapa mata kuliah ia diminta untuk menjadi asisten dosen. 
 
Di tengah kegiatan yang begitu padat ia juga masih menyempatkan diri untuk menjadi pengajar di lembaga bimbingan belajar. Selain itu Devi juga masih mengikuti beberapa kegiatan kemahasiswaan dan organisasi sosial seperti aktif di GMNI, hingga menjadi relawan di Solo untuk mengajar. “Saya sebenarnya tidak terlalu rajin belajar, saya belajar justru saat mengajari anak-anak itu,” akunya. Pada 13 Juni 2015 nanti semua perjuangan Devi bakal terbayar, saat itu ia akan wisuda dan mempersembahkan apa yang diraihnya kepada kedua orang tuanya dan kakak-kakaknya yang tak pernah paham apa itu kuliah. Ia bahkan juga ditawari beberapa beasiswa untuk melanjutkan masa depannya. “Ada beberapa tawaran beasiswa dari Monash University dan Newcastle University. Ada juga yang dari Belanda. Saya belum memastikan akan mengambil yang mana karena saya masih mempersiapkan diri,” katanya. Yang dia ingin saat ini hanyalah agar ayahnya bisa melihatnya saat wisuda nanti. Sang ayah memang dikatakan oleh Devi hampir tidak bisa melihat setelah dua bola matanya terkena katarak. 
 
Devi sebenarnya dalam beberapa bulan ini telah berusaha agar ayahnya bisa dioperasi. Ia mengatakan “Saya kurang tahu berapa biaya untuk operasi tapi yang pasti mahal bisa jutaan. Setiap bulan hanya bisa dibawa kontrol dengan Jamkesmas. Tidak tahu kenapa belum juga dioperasi, apa karena masih harus antri atau memang tidak bisa dengan Jamkesmas.”  sumber [http://kongkow.id / randomartikel.tk]